Selepas bencana besar di Kota Padang dan sekitarnya, kami pun sempat "menyelamatkan diri" dari trauma hiruk pikuk kengerian,kesedihan, kepedihan Kota yang nyaris porak poranda oleh amukan alam.
Masih berteman Pensilku yang setia serta beberapa helai kertas tersisa dari sebagian peralatan kerja yang sempat kami amankan. aku harus tetap bersyukur dengan semua yang sudah kami lewati disana.
Meskipun harus tetap kuakui bahwa setelah apa yang kulewati, aku masih saja sebagai seseorang yang tidak pandai menceritakan setiap kejadian yang aku alami, meskipun waktu itu bencana tersebut adalah pengalaman pertama seumur hidupku.
Namun, Pensil sahabatkulah yang senantiasa menyimpulkan setiap kenangan dari berjuta detail yang dilalui...... dengan Celotehnya lah aku bisa kembali mengingat apa yang seringkali aku lewatkan.
Demikian pula dengan kenangan tentang bencana ini, meski sayangnya banyak celotehnya seputar kota Padang yang harus aku cari kembali agar bisa aku bagikan sebagai bahan inspirasi dan instriospeksi bagi kita, terutama bagi diriku sendiri.
Kali ini Celotehnya justru tentang apa yang aku lalui selepas "menyelamatkan diri" dari bencana Padang....... yaitu Kota persinggahan kami untuk bersujud dan merenung sejenak tentang setiap denyut Takdir,.... yaitu Palembang.
Rabu, 11 Mei 2016
Sabtu, 07 Mei 2016
Gores Ekspresi Alam
Ketika Secuil Perasaan timbul dari lubuk kalbu, ia pun terbang melayang mencari cari gerbang fikiran, agar ia dapat menyampaikan pesan pesan yang dirasakan.....
Dalam setiap sedihnya, dari setiap sukacita, dalam setiap bongkah kenangan, dan dari semua butir mimpi sampai lembar lembar harapan.
Sekuat badai tekadnya mencari
Sedahsyat ombak memecah, ia mencari imaji
Setajam halilintar iapun menjilati setiap sudut nurani..... namun,
Semerdu nyanyian surgawi ia menyanyikan detail alam ini.
ketika terik ia menyebutnya "keindahan cahaya", ketika mendung ia memanggilnya "kesejukan abadi", dan disaat hujan ia mengutipnya sebagai "indahnya kenangan".
Begitulah Perasaan dengan sekeping ungkapannya, tak terhalang ruang dan waktu, baginya semua yang terhampar adalah Karunia....
Baginya setiap benda adalah Tanda....
Baginya setiap musim adalah Cerita Berharga.......
"Inside Winter", Pencil On Paper, September 07 2015, (Temmy S. Hidajat).
Dalam setiap sedihnya, dari setiap sukacita, dalam setiap bongkah kenangan, dan dari semua butir mimpi sampai lembar lembar harapan.
Sekuat badai tekadnya mencari
Sedahsyat ombak memecah, ia mencari imaji
Setajam halilintar iapun menjilati setiap sudut nurani..... namun,
Semerdu nyanyian surgawi ia menyanyikan detail alam ini.
ketika terik ia menyebutnya "keindahan cahaya", ketika mendung ia memanggilnya "kesejukan abadi", dan disaat hujan ia mengutipnya sebagai "indahnya kenangan".
Begitulah Perasaan dengan sekeping ungkapannya, tak terhalang ruang dan waktu, baginya semua yang terhampar adalah Karunia....
Baginya setiap benda adalah Tanda....
Baginya setiap musim adalah Cerita Berharga.......
"Inside Winter", Pencil On Paper, September 07 2015, (Temmy S. Hidajat).
Langganan:
Komentar (Atom)

